Dari kami Mei ini…

Sejatinya, ada secercah harapan yang membuncah di dada manakala memasuki bulan yang baru. Begitu pula ketika kita memasuki bulan Mei 2013. Ingin mendapatkan sesuatu yang baik dan positif, niscaya jadi impian. Sayang, hingga Mei sudah meninggalkan jejaknya ragam berita negatif yang dianggap memalukan masih kerap muncul. Paling tidak, malumaluin.wordpress.com mencatat ada 19 artikel berita memalukan anak negeri ini di sepanjang bulan Mei 2013.

Dimulai dari peristiwa memalukan di Bogor, Jawa Barat. Ada orang yang ingin menjadi polisi jadi-jadian alias gadungan demi bisa mendapatkan uang dengan cara memeras orang lain (https://malumaluin.wordpress.com/2013/05/06/hati-hati-pilih-tempat-pacaran-kalau-tidak-mau-jadi-begini/). Ah, sedikit tidak masuk akal. Mengapa? Dengan tidak menjadi oknum gadungan saja ada citra negatif yang muncul, apalagi dengan mencoba-coba menipu diri seperti itu.

Coba tengok bagaimana citra polisi di mata masyarakat. Lewat pemberitaan Sinar Harapan, Senin (06/05/2013), misalnya. ‘Polisi Biarkan Ahmadiyah Diserbu,’ begitu judul beritanya. Tak sulit memaknai judul tersebut. Polisi diposisikan sebagai subyek yang abai. Tentu saja terhadap keselamatan warga negara. Bagaimana dengan pandangan masyarakat umum. Biarlah itu menjadi penilaian masing-masing.

Mei yang memalukan masih menyisakan cerita. Seputar dunia pendidikan, salah satunya. Dari Malang, Jawa Timur, terungkap bahwa ada calon mahasiswa, yang katanya intelektual muda generasi penerus bangsa, ternyata menggunakan jasa joki alias calo untuk dapat diterima masuk di perguruan tinggi. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang, begitu nama kampusnya (https://malumaluin.wordpress.com/2013/05/15/sssttt-ada-joki-pakai-wireless/). Jelas ini mengusik logika, apalagi nurani seperti yang dirasakan seorang blogger asal Bali, Nyoman Lisnawa,” gila, jangan-jangan untuk lulus SMA juga pakai joki..” Ya, jika boleh berandai-andai, jangan-jangan ini juga penyebab ada sekitar 360 ribu sarjana Indonesia yang menganggur.

Belum usai kisah memalukan dan memilukan dunia pendidikan, muncul lagi kisah lama. Soal ujian nasional (UN), tentu saja. Sulit rasanya akal sehat menerima hasil UN yang cukup menggemparkan seperti yang dilansir oleh Kompas dan banyak media nasional lainnya pada 24 Mei 2013. Apalagi kalau bukan terungkapnya 24 sekolah menengah atas (SMA), semua siswanya tidak lulus UN.

Ah, kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab? Apalagi kalau harus mencari kambing hitam untuk disalahkan. Atau, haruskah kita dipaksa diam dan melupakan segalanya? Terlebih penanggung jawab dunia pendidikan tertinggi di kementerian pendidikan dan kebudayaan saja tidak mau bertanggung jawab-persis seperti judul berita yang dilansir oleh The Jakarta Post: “Nuh refuses to take blamehttps://malumaluin.wordpress.com/2013/05/14/anda-punya-masalah-tenang-ini-ada-solusinya/

Dunia pendidikan Indonesia sepertinya tidak pernah kehabisan cerita memalukan. Ya, ini kisah guru SD yang mencabuli 17 siswanya. Gilanya, pencabulan itu dilakukan di kelas dan di depan murid-muridnya (https://malumaluin.wordpress.com/2013/05/28/ini-cara-kreatif-guru-bm-dalam-mengajar/).

Bagaimana dengan dimensi sosial dan politik? Wuah, kalau itu mah semua sudah mafhum. Mulai dari 15 tahun reformasi yang tak kunjung berbuah manis-bahkan Kompas (21/5) mengatakan sektor pertanian menjadi korban liberalisasi- sampai kepada terkatung-katungnya nasib penanganan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur meski telah berjalan selama 7 tahun.

Kondisi memalukan yang terangkum sepanjang bulan Mei ini memaksa kami, malumaluin.wordpress.com, berpikir ekstra keras untuk menentukan siapa yang layak mendapatkan malumaluin award untuk bulan Mei. Setelah mempertimbangkan tidak hanya isu dari berita yang berdampak luas dan hakiki, tetapi juga kreativitas dan originalitas komentar para blogger, maka malumaluin award bulan Mei jatuh kepada blogger dengan nama Tumpal. Komentarnya atas artikel yang berjudul “Intoleransi Meningkat, SBY Raih Penghargaan” cukup kreatif bahkan bernas. Tumpal menuliskan bahwa UUD 45 pasal 29-lah yang menjadi salah satu pasal-yang dianggap sebagai landasan pemersatu bangsa-yang tidak diganggu gugat oleh amandemen. Nah, dengan muncul atau bahkan meningkatnya berbagai intoleransi (khususnya dalam beragama), “apakah ini pertanda akan adanya amandemen ke-5 nantinya, bahwa intoleransi beragama saat ini sudah dimungkinkan di Indonesia?” begitu Tumpal menutup komentarnya.  Untuk itu, kami akan mengirimkan malumaluin award bulan Mei berupa cokelat dengan kemasan khusus.

Bulan Mei, yang digadang-gadang oleh Edwin Way Teale-seorang penulis Amerika peraih penghargaan Pulitzer Prize-sebagai bulan musim semi yang penuh dengan keceriaan seperti belum menunjukkan jati dirinya. Tampaknya, harapan masih harus diperpanjang di bulan Juni atau bahkan bulan-bulan berikutnya.

Oleh karena itu, kami  pun masih menyimpan asa. Kami berharap usaha dokumentasi ini semakin dikenal banyak orang. Dan, tentu saja, tetap mendapatkan dukungan.  Tujuannya satu. Perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Dus, kami akan tetap melanjutkan dokumentasi ini di bulan Juni dan bulan-bulan selanjutnya.

Salam malu-maluin!

Pir Owners

Koordinator malumaluin.wordpress.com

malumaluinaje@yahoo.com

One response to “Dari kami Mei ini…

  1. Terima kasih akang pengelola malumaluin.wordpress.com atas awardnya. Semoga award yang saya terima ini tidak membawakan kontroversi di kalangan masyarakat luas, karena ini tidak mewakili siapa-siapa🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Salam malu-maluin!

Januari 2013

Blog Stats

  • 20,613 hits
%d bloggers like this: